Sunshine…

poster sunshine 07

written by amusuk

Cast: Kris, IU | Rating: PG-13 | Genre: Angst, Romance | Length: Oneshot (1500+ words)

a/n: pernah diposting dalam bahasa Inggris di note fb dan di AFF. Jadi ini terhitung crossposting juga. Tolong dikoreksi kalau ada typo, alur kecepetan, dll. Ditunggu tanggapannya. Enjoy~!

Oh when you smile, sunshine…

~*~

—14 Oktober 2013

Aku kini berada di ruangan yang putih nan bersih. Pada jendela di samping tempat tidurku, tirai putih transparan terpasang di bingkai bagian atas. Tirai itu melambai. Seseorang pasti telah membuka jendela.

Ketika itulah aku mendengar suara pintu dibuka. Seorang gadis mungil melangkah masuk.

“Ah, Yifan… Kau sudah bangun? Kupikir kau akan tidur lebih lama.”

Aku merasakan sejurus ketenangan mengalir di tubuhku begitu mendengar suaranya. Dia bagaikan malaikat untukku. Bahkan saat ini, ketika ia tidak memakai riasan ataupun baju-baju modis. Dia seorang model pendatang baru sejak tiga bulan lalu, dan lihat betapa sederhananya dia untuk tampil biasa seperti itu!

“Kau mengejekku? Ingin membandingkanku dengan Suho? Tidak, terima kasih. Aku masih muda di dalam dan di luar jadi tidak perlu bertingkah seperti orang tua yang sakit punggung.” Ia tertawa kecil. Ah, dia selalu tertawa pada setiap hal yang kukatakan. Aku suka tawanya.

“Baiklah, kalau begitu. Aku akan bawakan sarapanmu.” Ia mengacak-acak rambutku lembut sebelum berbalik, dan melangkah menuju pintu.

Udara terasa dingin akhir-akhir ini. Mungkin karena pendingin ruangan ini yang selalu menyala. Tapi tetap, keberadaannya dapat menghangatkanku sehingga aku tak mengeluh soal itu. Di samping itu, apa yang dapat kulakukan ketika aku tidak dapat bergerak semauku. Aku memiliki tumor di leherku, di bagian kiri. Mungkin kelihatannya tumor itu cuma berada di leherku sementara pada kenyataannya, di dalam, telah mencapai otakku. Ya, otakku. Hidupku tidak akan lama. Aku telah diopname selama beberapa bulan—aku sudah kehilangan hitungan. Aku tidak tahu berapa lama aku memandangi jendela, pada sinar matahari yang mengintip melalui tirai putih sampai aku merasakan meja kecil diletakkan di depanku.

“Ini sarapanmu! Hihi. Hei, berhentilah melamun di pagi hari.”

Menu makananku sama saja seperti makanan rumah sakit pada umumnya. Bubur yang hambar. Aku mengambil sesendok tapi sebelum bubur itu memasuki rongga mulutku, ia menahan tanganku.

“…Jieun-ah?”

Ia menggelengkan kepala, “Bubur ini baru matang, dan panas, kau harus meniupnya terlebih dahulu, sayang.” Aku tersenyum simpul. Ia meniupinya untukku.

“Bilang ‘aaah’…”

Kemudian, bubur itu terasa tidak begitu buruk pada akhirnya.

Aku dua tahun lebih tua dari Lee Jieun. Kami bertemu setelah pertandingan basket antara sekolahku dan sekolah lain. Karena itu pertandingan final, semua orang dari sekolah lain datang untuk menonton. Timku kalah hari itu. Meskipun demikian, pertandingannya menyenangkan. Aku membeli Cola usai bertanding ketika aku menabrak seseorang yang tidak kelihatan. Hm, di mana dia? Aku menurunkan pandangan dan melihat seseorang yang kecil—tidak kecil sebenarnya, hanya pendek—melihat ke arahku dengan ngeri. Hm, baiklah rupanya dia perempuan, tapi mengapa ia melihatku seolah-olah aku ini hantu?

“A-ah… Maafkan aku! Akan aku belikan yang baru.” Dengan itu, ia menghambur pergi ke—aku tidak tahu ke mana. Aku menunduk dan menemukan kaosku yang telah basah dan minumanku di atas tanah. Bagaimana bisa aku baru menyadari bahwa kaosku basah?

Tak berapa lama kemudian, gadis itu kembali, berlari-lari dan terengah-engah, lalu ia menyodorkan minuman padaku. Tampak seperti Cola tapi entah kenapa aku meragukan itu. Aku menyesapnya dan rupanya itu teh. Dia menunduk, tangan di atas lutut. “Kurasa kau lebih memerlukan ini daripada aku.” Aku menawarkan minumanku padanya tapi ia menolak.

“Tidak, terima kasih. Aku minta maaf.”

“Nah, tidak apa-apa. Sebetulnya aku tidak mempermasalahkannya sama sekali, manis.”

Apa? Aku ingin mengutuk kebodohanku ini. Tapi ia tampak tidak begitu terganggu dengan hal itu, maka buru-buru aku pamit padanya dan tidak berbalik lagi barang sekali.

Pertemuan demi pertemuan yang tidak disangka terjadi di kereta, di tepi jalan, di depan sekolahnya, kami semakin dekat. Dan dia tidak tampak menolakku. Aku kumpulkan keberanianku dan kukatakan padanya apa yang kurasakan. Ia hanya tersenyum dan mengangguk, dan aku tidak dapat melupakan rona mawar di pipi tembamnya. Oh, aku belum bilang kalau dia manis dengan tubuh yang bulat itu, ya? Benar-benar manis untuk dilihat.

Aku masih ingat dengan baik waktu itu tujuh bulan yang lalu. Beberapa hari setelah hari itu, dia berkata bahwa dia akan melakukan jogging setiap hari. Aku tidak masalah. Kalau dengan menurunkan berat badan membuatnya bahagia maka tidak apa-apa denganku. Rasanya tidak begitu lama sampai ia memutuskan untuk mengirim fotonya pada suatu kontes kecantikan di sekolah menengah atas. Dia cukup fotogenik, kau tahu. Dan sebuah agensi yang menyukai wajah manisnya memintanya menjadi model sampul, yang ia terima dengan suka cita; mencari pekerjaan akhir-akhir ini begitu sulit sehingga ia tidak akan membiarkannya terbuang sia-sia. Pekerjaan kecilnya berawal dari sana. Hampir setiap kali, aku akan mengantarnya ke studio di sore hari atau pagi hari di akhir minggu atau hari libur. Ketika itu, gundukan di leherku mulai muncul sedikit demi sedikit.

Aku selalu merasa beruntung bertemu dirinya. Betapa perhatiannya dia. Namun aku tidak lagi melihat pipi tembamnya, berat badannya turun dengan cepat semenjak ia menjadi model. Tapi dia sangat suka dunia model, sebanyak aku menyukai basket. Kuulurkan tanganku ke pipinya, dan ia mendongak dari tabloid olahraga yang tengah ia baca.

“Hm?”

“Wajahmu semakin lembut… dan kurus….”

Ia tersenyum simpul. “Ya, orang agensi menyuruhku ke spa sesekali. Dan mereka ingin aku menurunkan berat badan, jadi kulakukan.”

“Ngomong-ngomong, ada berita apa?” Dengan dagu aku menunjuk tabloid di tangannya.

“Ya, SMA Deong-Il memenangi pertandingan tingkat provinsi tahun ini.”

“Oh….”

Seperti biasa, dia akan berada di sisiku, terkadang menceritakan tentang apa yang ia kerjakan hari itu padaku, membacakan tabloid olahraga untukku, atau membawaku keluar kamar dengan kursi roda.

Hari itu Minggu. Itulah mengapa ia dapat menemaniku hingga sore semakin larut. Saat ia melambaikan tangan padaku, hendak pulang, aku bisa melihat di jari manisnya, kilauan di bawah matahari jingga. Itu cincin yang aku beri saat kami pergi ke pantai. Aku ingin menjanjikannya, bahwa aku akan memberikannya cincin yang sesungguhnya tetapi aku masih belum menemukan kesempatan. Aku terus mengingatkan diriku tapi aku juga terus melupakannya. Namun ada satu hal yang pasti, esok hari aku akan sendiri.

***

—16 Oktober 2013

Jieun tiba di kamarku saat aku aku tertidur. Saat aku mulai terbangun, aku melihatnya mengerutkan kening. Ia membawa tangannya ke pipiku dan menyapukannya dengan sangat lembut.

“Kenapa kau menangis?”

Bodohnya aku! Aku membiarkan diriku menangis hingga tertidur hari ini. Aku tidak tahu penyebabnya, biasanya aku tidak pernah seperti itu. Meski begitu, aku ingat bertemu dengan kakekku dalam mimpiku barusan. “Aku tidak… tahu?”

“Yifan… kau bisa bilang padaku.” Tangannya turun sampai di atas tanganku, lalu menggenggamnya.

“Tapi, sungguh, aku tidak tahu, sayang.” Aku melihatnya menghela napas.

Ia tidak mendesak lebih jauh selepas itu. Ia letakkan kepalanya di sisiku, dengan tangan yang masih memegang tanganku. Siang ini matahari bersinar menerpa wajahnya, membuat wajah putihnya seakan bersinar. Indah. Kehangatan yang ia bagi sungguh menenangkan. Tapi kemudian aku mendapat perasaan tak enak. Aku perhatikan matanya yang tertutup. Kemudian wajahnya. Ada garis-garis kerutan yang samar di alisnya. Aku membayangkan betapa keras ia bekerja. Aku tahu ia tampak lelah, tetapi… aku tidak mau ia berhenti datang ke sini. “Karena kau matahariku….” Aku tidak tahu sejak kapan aku jadi lemah begini. Celanaku pun ternoda oleh tetesan-tetesan air.

Aku ingin melihat senyum cerahnya. Aku ingin mengembalikan senyum itu di bibirnya. Aku ingin selalu menemaninya pergi bekerja. Bagaimana aku mau melakukannya? Kuletakkan tanganku di pundaknya, menariknya dalam sebuah pelukan yang kikuk.

“Hm… Yifan?”

Tubuhku bergetar pada tubuhnya. Ia pun bangun dan memelukku balik. “Cup, cup. Aku ada di sini.”

“Aku… aku ingin melihat bulan….” Itu yang aku katakan pada akhirnya.

Jieun melirik ke jendela; ia tidak dapat melihat bulan dari sini. “Mari kita pergi ke taman di paviliun sebelah, ya?”

Kami duduk di bangku taman yang lembab. Selembar selimut menutupi tubuhku selagi aku duduk dengan Jieun dalam rengkuhku. Kulemparkan pandang pada langit dan tidak kutemukan rembulan di sana. Aku menatap Jieun yang tidak mengatakan apa-apa sejak kami duduk di sini. Kugoyang-goyangkan tangannya, akhirnya ia mengangkat muka.

“Rembulan tidak bersinar.”

“Aku tahu.”

“Maksudku, bulan tidak akan bersinar.”

“…?”

“Karena kau sang cahaya matahariku, sang bulan tidak akan bersinar jika kau tidak tersenyum. Dia merefleksikan dirimu, kau tahu. Tersenyum untukku?”

Dia mencubit lengan kiriku. Dia tersenyum kecil.

“Oh, ayolah. Lebih lebar lagi?”

Dia tersenyum sedikit lebih lebar.

Aku pun menaruh jariku di kedua ujung bibirnya dan menariknya ke samping, membuat wajahnya terlihat lucu.

“Iih, hentikan itu! Baiklah, baiklah. Ini pesananmu.” Aku tertawa mendengar nada suaranya yang mirip pelayan di restoran.

Ia tersenyum begitu cerah. Matanya bersinar melewati mataku dan aku pun tidak tahu berapa lama aku memandangi wajahnya, matanya, ketika cahaya dari sisi menyinari wajahnya, membuatnya tampak lebih cantik. Aku menoleh ke samping untuk melihat bahwa awan yang sedari tadi menutupi bulan telah berarak pergi.

“Lihat? Bulan akan bersinar bila matahari bersinar.” Aku menyentil hidungnya, menggoda. Ia tertawa lembut dan menyinggung tanganku, menggenggamnya lebih erat. Lalu kami pun melihat, begitu bulan menurun dan menurun, senti demi senti, seraya menit berlalu.

Aku merasa aman dan bahagia di sini. Tempat yang paling menenangkan hanyalah di bahunya.

Aku tidak tahu berapa lama kami duduk tetapi aku merasa ringan, maka kuletakkan kepalaku pada kepalanya.

Samar, aku mendengarnya berkata. “Yifan….”

“…Yifan?”

a/n: yosh, fanfic pertama yg amu publish di sini? mulanya ditulis dalam bahasa Inggris di AFF, tapi terus kuterjemahin aja karena ini salah satu fic krisiu yg menurutku lumayan lah, hehe. betewe, pada tau kaga nama unofficial buat exo/iu shipper itu aeon? 😀

Iklan

20 respons untuk ‘Sunshine…

    1. Eit mau ralat, maaf kak *bungkuk90derajat Kakak cowo bukan? Oh my, saya salah >< Baru liat blog kakak, trus liat profile kakak ternyata kakak cowo -,-
      (mohon dimaklumi krn yg rata" nulis fanfic kaum hawa ._.v)

  1. KAK AMUUU! Muehehe… setelah kemarin kakak mampir ke fic-ku, sekarang gantian aku yang ngerusuh fic kakak. Nggak apa-apa kan?

    tbh aku sepertinya sudah baca sebelumnya, tapi versi bahasa inggris. Ehm, berhubung bahasa inggrisku nggak bagus-bagus amat, jadi dulu cuma aku baca sepintas TT_TT

    Sekarang jelas! (ahahaha*ketawa/dipites*)

    OHOHOHO KAK AMU, KAKAK APAKAN KRIS?! Aku ngerasa Kris di sini rapuh banget. Dan seolah-olah aku ikutan sakit (nangisss/nunjuk dada)

    Ah ya, Kris kayanya gimana gitu, awal-awal ketemu Jieun sudah panggil dia ‘manis’ 😀 yayaya mungkin refleks lihat perempuan manis 😀

    Itu Kris beneran meninggal ya? AAA KAKAK KOK GITU? (teriak ngajak tao*ditendang kak amu*) padahal sudah suka banget scene mereka romantis mereka, itu tuh sweet banget 😀 tapi tapi tapi endingnyaaa…

    Ya sudah, segini saja ya, Kak. Maaf kalau cenderung nyepam. Aku sukaaa ceritanya, dan sepertinya nggak ada typo, alurnya nggak kecepetan kok 🙂

    Keep writing, ya, Kak! 😉

  2. YO! Makasih ya udah mampir2, ehehe. Terus karena ini pake hape balesnya jadi kurang memuaskan nih. Hem

    iya karakter kris jadi begini karena menurutku orang yg tau dirinya mau mati itu pasti berubah.

    Ah iya semua bittersweet ini salahkan aja sama chen, gara2 waktu nulis ini lagi dengerin baby don’t cry yang baru rilis dulu ;_;

    yep, kamu jg ya~

  3. Waah.. waah.. ini ngefeel sekali.. demi apa… aaaa aku selalu speechless tiap baca ff bagus.. dan sekarang aku speechless. Entah kenapa aku kok sekarang jd suka pairing Kris IU ya.. entah kenapa. XD Ya ampun ini keren bangeet! Btw salam kenal ya kak.. ^^ Semoga bisa kenal baik.. Semangat terus kakk!

    1. ya ampun makasih ya udah baca dan ninggalin jejak. alhamdulillah kalo emang nge-feel, ini tulisan lama sih, tapi nanti aku bakal bikin yg baru, dan untuk kris iu fandom pastinya.

      *tebar cinta kris iu*

      salam kenal juga, dear.
      sama-sama kamu juga semangat!

      1. Wkwkwk.. dulu aku pernah baca ini di aff. Dan meskipun aku udh baca dua kali aku tetep nangis kak.. wkwkwk
        Semangat terus kak.. muaah!

      1. Udah dapet kok kak.. soalnya pas last sentences nya itu bikin pembaca mikir jadi lebih feel. Kalo kakak kan udah tau ceritanya jadi kesan nya malah kurang beremosi, padahal udh ngefeel bgt kak

    1. Syukur-syukur deh kalo ini nge-feel /biasanya ngga

      Ah itu kris meninggal >< ditulis implisit memang *menggelinding

      anyway, makasih ya hana udah baca dan ninggalin jejak ^^

  4. wah kakak cowo? salam kenal 🙂
    fanficnya bagus banget tata penulisannya juga apik 🙂
    aku harap aku bisa kenal sama kakak ?
    bales ya kak

wanna say something?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s